Showing posts with label Cerpen Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Cinta. Show all posts

Mutiara Mata Air | Air Mata Mutiara | Mata Air Mutiara | Mutiara Mata Air | Air Mutiara Mata | Mata Mutiara Air |


Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu."
Si ibu terdiam, sejenak, "Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
******
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".
Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.
Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu..

"AIRMATAKU DIPERHITUNGKAN ALLAH.. DAN PENDERITAANKU INI AKAN MENGUBAH DIRIKU MENJADI MUTIARA."

AKU CAPEK AYAH

“Ayah, ayah” kata sang anak…
“Ada apa?” tanya sang ayah…..
“aku capek, sangat capek …
aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek …aku mau menyontek saja!

aku capek. sangat capek …
aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! …
aku capek, sangat capek … aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung …aku ingin jajan terus! …
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati …
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku …


aku capek ayah, aku capek menahan diri …aku ingin seperti mereka…
mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! .. ”
sang anak mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata
” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu ”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak
kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang
lalu sang anak pun mulai mengeluh
” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” …
sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang …
“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini !”
sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“ Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah …?”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu ”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi … ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri … maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri … seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya … maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang … maka kau tau akhirnya kan?”
” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah, aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.
Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua...

Tentang Kesetiaan

Cewekku namanya Caca. Sebenarnya dia baik. Apalagi wajahnya cantik dan dia adalah seorang yang periang. Suasana jadi selalu
ramai. Dan malam ini, aku seneng banget bisa berduaan sama Caca setelah kesibukan di kampus. Malam ini indaaahh.... banget! Tapi
sebuah sms telah mengacaukan semuanya. Dan Caca yang cantik dan baik itu, berubah bagai kucing yang sedang mengamuk.
Caca menyodorkan ponselku setelah dia membaca sms yang masuk tadi. Caca memang selalu 'menguasai' ponselku saat

Kematian Diatas Cinta

          Hari- hari begitu cerah, kicauan burung, gemercik air terjun, pepohonan yang hijau. Dibawah bukit tampaklah rumah mungil, meskipun kecil akan tetapi desain rumah itu sangat menarik. Disitulah Prinsa dan keluarganya tinggal. Prinsa tergolong keluarga yang berkecukupan, akan tetapi dia selalu tidak menyombongkan diri dengan kehidupannya. Meskipun sekitar lingkungan rumah Prinsa mayoritas keluarga tidak mampu, Prinsa tetap mau bergaul dengan mereka.
            Orang- orang sekitar Prinsa sangat bangga kepadanya karena menurut mereka jarang anak remaja seperti Prinsa. Prinsa sekarang duduk di bangku SMU N 01 Bintang Harapan. Prinsa juga dikenal sebagai siswa yang berprestasi dan aktif dalam setiap kegiatan sekolah. Tak heran jika dia menjadi primadona sekolah. Banyak teman laki-lakinya ingin menjadikannya sebagai pacar, bahkan kakak kelasnya pun berebut untuk bisa menaklukan hati Prinsa,karena selain dia cerdas, dia juga cantik.
            Di ruang 07 prinsa dan teman- teman yang lain sedang mengerjakan soal- soal testing.Tiba- tiba perhatian Prinsa tertuju pada teman yang duduk di sampingnya.
            “ Dek kenapa? Kok kayaknya bingung!”
“ Iya nih kak, Saya lupa ga bawa pulpen. Kalo ijin keluar ambil pulpen kira-kira boleh ga yah!”.
“Dek mendingan ga usah, pengawas ini terkenal killer, nih kakak bawa pulpen dua kamu bisa pake dulu.”
“Terima kasih kak,kalau ga ada kakak gatau nih nasib saya”. “sama- sama.” Sambil (melempar senyuman).
Waktu testing sudah habis. Anak- anak keluar dengan perasaanyang bermacam- macam.
            “ Kak…………kak……kak  Prinsa ,…….”
            “Oh iya dek ada apa dek…..!”
            “Ini kak saya mau balikin pulpen kakak, makasih ya kak.”
            “Oh iya, kamu sendiri tau nama aku dari mana?”
            “Ya iyalah siapa yang ga kenal kak Prinsa…!”
            “Alaaa kamu bisa aja” jangan panggil aku kakak ya, panggil aja Prinsa.Ya dah balik duluan yah”
            “Iya kak, eh salah Prin, hati- hati di jalan”.

            Digerbang sekolah banyak anak yang berhamburan untukpulang ke rumah masing- masing.
            “ Loh Prink ok belum pulang?.
            “Iya ini lagi nunggu angkutan.”
            “Ya udah mendingan sama saya saja, lagian kita kan searah.”
            “Tapi ………………… gak” usahlah, biar Prinsa nunggu angkutan aja. Makasih.”
            “ Prinsa mau nungguin angkutan sampai jam berapa? Orang denger- denger supir angkotnya pada mogok gara- gara uang yang harus mereka setorkan terlalu tinggi.”
            “Apa iya. Kalau gitu gimana dong?”
            “ Udah ikut Bagas aja.”
            “ Apa ngga’ ngrepotin Bagas?”
            “Ngga’ kok …….. ayo….!”

            Sampai di depan rumah Prinsa.
            “Ayo gas masuk dulu.”
            “Makasih Prin, tapi Bagas meski pulang sekarang.”
            “Oh ya udah, makasih ya !”
            “Prin boleh ngga’ aku minta nomor hpmu?”
            “Oh… boleh.”
            “Yaudah prin Bagas pulang dulu.”
            “Oh iya, makasih atas tumpangangnya.”
            “Hati – hati ya Gas!”

Orang – orang di sekitar Prinsa binmgung karena sebelumnya Prinsa ngga pernah pulang bersama cowok. Padahal banyak cowok yang pingin pulang sama dia. Tapi Prinsa selalu menolaknya dengan halus. Tiba – tiba ada seorang ibu – ibu yang menanyakan kejadian tersebut.
            “Nak Prinsa, itu siapa?”
            “Pacarnya ya? Wah ganteng bauanget………namanya siapa nak? Cocok lho sama nak Prinsa.”
            “ Ah, ibu inibisa saja. Dia itu Cuma temen kok, kebetulan ia sejalur, jadi ia ngajakin bareng.”
            “Oh begitu……..tapi kalau kalian pacaran juga ngga’ apa – apa nak, serasi kok!”
            Prinsa hanya tersenyum melihat ulah ibu – ibu tetangga.”
            “Yaudah ibu – ibu, Prins  masuk dulu ya!”
            “Oh iya. Silahkan nak.” (jawab ibu – ibu serempak)

Ketika Prinsa sedang asyik menikmati pemandangan bintang di langit tiba – tiba hpnya berbunyi.
            “Ada sms, dari siapa nih?”
            “Malam Prinsa, lagi apa? Ini aku Bagas.”
            “Oh Bagas” (Prinsa membalas sms dari Bagas)
            “Malam juga, Aku lagi memandang langit melihat bintang dan bulan”
Mereka asyik smsan sampai – sampai mereka ngga’ tahu kalau sudah jam sembilan malam. Akhirnya mereka terlelap dalam mimpinya masing – masing. Lama – kelamaan keakraban mereka dianggap pacaran oleh teman – teman Prinsa dan Bagas. Padahal banyak cowok yang ingin menjadi pacar Prinsa. Tapi entah apa yang ada di pikiran Prinsa memilih Bagas yang hanya seorang adik kelas. Setelah lama mereka jalan, sifat asli Bagas kelihatan, yaitu arogan, keras, dan kasar. Hal tersebut diketahui Prinsa saat mereka jalan bareng. Tiba – tiba ada anak kecil yang meminta makanan pada Prinsa dan Bagas. Tiba – tiba saja Bagas membentak dan mengusir anak kecil itu. Dan anak kecil itu pun lari sambil menangis.
            “Dik, sini jangan pergi.” (Prinsa memanggil anak kecil itu).
            “Ini kakak punya roti, ini buat adik, oh iya, ini kakak juga punya sedikit uang.”
            “Makasih kak.”
            “Iya.” (Sambil melempar senyum manisnya)
            “Prinsa, kenapa kamu kasih pengemis itu roti dan uang?”
            “Karena anak itu lebih membutuhkan.”
            “Mereka hanya sampah masyarkat, memangnya orang tua mereka kemana? Anak kok  dibiarin berkeliaran mengemis.”
            “Cukup Gas, mereka juga manusia, mereka butuh uluran tangan kita. Kalau kita bisa bantu kenapa ngga’!”
            “Tapi Prinsa……… nanti mereka jadi males!”
            “Apa bedanya ma kamu? Kamu juga ngemis kan?”
            “Maksud kamu apa?”
            “Iya, kamu sendiri juga ngemis sama ortu. Kamu juga males kerja, so apa bedanya sama kamu?”
            “Tapi Prinsa……….”
            “Sudah cukup, terserah kamu mau ngomong apa.”
Mereka pun berpisah.

            Di kantin sekolah banyak yang dilakukan siswa – siswi SMA N 01 Bintang Harapan. Di meja paling sudut terdapat segerombolan anak kelas X-1 berkumpul. Tiba – tiba ada anak perempuan yang sedang bertanya pada Bagas.
            “Gas, apa iya you masih ma Prinsa?”
            “Masih. Emang kenapa?”
            “Ih…, kamu kok seleranya rendah banget, masa ama kakak kelas, emang ga ada yang menarik di antara kita atau yang seumuran ma kamu?”
            “Iya bener Gas, emangnya kamu ga kuatir pa? Kalau Prinsa bisa selingkuh sekarang kan kamu adik kelas, lagian temen – temenya yang seumuran bahkan yang lebih tua kan banyak yang lebih oke dari kamu, mereka juga pingin mendapatkan cinta Prinsa.”
            “Iya ya? Bener juga! Ngapain juga gue mikirin dia?”
            “Terus gimana dong? Putus, gue ngga maulah. Apa selingkuh saja ya?”

            Di belakang pembicaraan mereka ternyata ada Prinsa. Prinsa mendengar percakapan antara Bagas dengan teman – temannya. Prinsa sadar ternyata selama ini Bagas hanya mepermainkan perasaannya. Saat Prinsa hendak beranjak tiba – tiba dia menabrak ibu kantin dan ini pun menjadi pusat perhatian seluruh penghuni kantin. Bagas pun tersentak dengan keberadaan Prinsa. Prinsa pun berlari dan duduk di bawah pohon rindang. Di bawah pohon itu dia menumpahkan air matanya. Saat ia menumpahkan air matanya tiba – tiba ada orang yang memegang pundaknya dari belakang.
            “Prinsa, sudahlah jangan kau tangisi kejadian ini. Tidaklah pantas kau tangisi dia. Begitu dong. Aku pingin melihat Prinsa yang dulu, yang selalu ceria.”
            “Oh iya kakak siapa? Kok Prinsa baru melihat kakak. Kakak anak baru?”
            “Tidak, kakak sudah lama di sekolah ini. Cuma sudah lama kakak ngga’ masuk. Oh iya kenalin, nama kakak Gilang.”
            “ Ooooo….., lho kenapa kakah lama ngga’ masuk?”
            “Ngga’ pa pa, Cuma ingin istirahat saja.”
            “Yaudah kalau kakak ga mau cerita, gak pa pa. Prinsa mau masuk kelas dulu ya kak.”
            “Oh iya. Sampai ketemu lagi.”
Hanya senyum manis yang dilemparkan Prinsa sebelum meninggalkan kakak kelasnya itu. Bel akhir sekolah pun berbunyi. Anak – anak bersorak gembira keluar kelas. Di depan gerbag sekolah ternyata sudah ada sosok yang menantinya.
            “Prinsa….!”
            “Ha… Kakak, kok kak Gilang belum pulang?”
            “Belum. Nunggu kamu.”
            “Nunggu…   Prinsa?”
            “Iya. Aku pengin minta temenin kamu untuk jalan – jalan. Kamu mau kan?”
            “Tapi kak!”
            “ Aku mohon Prinsa.”
            “Tapi kita pulang dulu ya kak. Aku ngga’ mau bikin orang tua khawatir.”
            “Iya boleh deh.”

Mereka pun meluncur dari pintu gerbang dan meninggalkan sekolah. Di lain tempat Bagas yang merasa jeules melihat kebersamaan Prinsa dan Gilang.
            “Kak Gilang, emang kita mau kemana?”
            “Ya kemana saja, yang penting aku bisa bahagia berjalan sama kamu Prins.”
            “Dah nyapai rumah kak, ayo masuk dulu. Prinsa ganti baju dulu ya kak! Sekalian mau ijin ma mama.”
            “Oh iya.’
            “Mah, Prinsa mau pergi ma kak Gilang.”
            “Pergi kamana saying? Jangan malam – malam pulangnya! Mama ngga mau kamu kecapekan.”
            “Iya ma. Oh iya, Prinsa ambil tas dulu ya!”
            “Gilang, tante mohon jagain Prinsa! Selama ini Prinsa ngga’ pernah keluar, kecuali sama saya. Ia ngga’ boleh kecapekan”
            “Iya tante, Gilang tahu, untuk itu Gilang ngajak jalan – jalan.”
            Prinsa keluar dari kamarnya.
            “Kok mamah nangis?”
            “Inget mah, Prinsa ngga’ suka kalo mama mengeluarkan air mata. Bagi Prinsa air mata mama begitu mahal untuk dibuang.”
            “Ngga’ sayang, mama ngga’ nangis, barusan mama kelilipan.”
            “Yaudah kita berangkat dulu.”
            “Ya. Hati – hati sayang!”
            Gilang dan Prinsa jalan – jalan menikmati indahnya pemandangan, dan tampak terakhir menuju kafe.
            “Prinsa, Aku mau ke belakang dulu ya. Kamu pesan dulu ya! Tolong pegangin tas kakak ya!”
            “Iya kak.”
            Saat Prinsa hendak duduk tiba – tibaada orang yang menabraknya dan tasnya Gilang jatuh. Tiba – tiba kertas putih keluar dari dalam tas Gilang.
            “ Apa ini ……?”
            “ Apa …… ternyata kak Gilang punya penyakit jantung, dan ini sudah parah.”
Setelah Gilang kembali dari kamar mandi dan didapatinya Prinsa belum memesan makanan .
            “ Prinsa, kok belum pesan makanan ?”
            “ Oh……..iya kak, Prinsa nunggu kakak.”
            “ O.. gitu ya …….. ya udah pesan yuk.”
Setelah selesai makan mereka pun pulang. Dikamar Prinsa melamun dan sambil menulis buku diarinya.

                                                                                                            13 Mei 2009
            Dear diary
            Tidak menyangka seorang kak Gilang punya penyakit jantung, kasian dia, pasti hatinya sedih begitu juga orang tuanya. Karena aku juga mengalami bagaiman rasanya mengidap penyakit yang menakutkan.

                                                                                                            Prinsa 

 Tiba – tiba hp Prinsa berbunyi
            “ Halo siapa…….?”
            “ Halo ini kak Gilang Prinsa.”
            “ Oh, kakak, ada apa kak..?”
            “ Ngga’ papa, kakak Cuma pengin ditemenin kamu malam ini, kok kamu kaya habis nangis, kamu nangis ya Prin….?
            “ Oh ngga’ kok, Cuma lagi pilek aja.”
            “ Oh………………udah minum obat belum..?”
            “ Udah kok..”
Sampai malam mereka ngobrol lewat hp dan mereka memutuskan untuk tidur.

Pagi yang cerah tapi tak secerah muka Prinsa. Saat sarapan bersama tiba- tiba Prinsa meminta sesuatu kepada orang taunya.
Mah, Pa ….. sebelum Prinsa pergi nanti, Prinsa ingin mendonorkan jantung Prinsa buat kak Gilang.”
Air mata mamanya pun mengalir.
            “ Ma, Prinsa ga mau melihat mama menangis lagi, ini semua udah jalannya mah.”
            “ Iya sayang, maafin mama yah..”
            “ Ya udah Prinsa sekolah dulu..”

Setibanya di sekolah tiba- tiba teman Prinsa menghampiri.
“ Prinsa kamu tau ngga’ kalau kak Gilang anak kelas XII- IB sakit, sekarang dia di rumah sakit.”
“ Apa………….!!!” ( Prinsa tersentak kaget mendengar kabar itu )
“ Masa…!!” ( Tiba- tiba Bagas menghalangi jalan Prinsa ).
” Bukan urusan kamu”
Dirumah sakit sudah terdapat orang tua Gilang dengan tangisnya yang tidak tertahan. Saat Prinsa hendak masuk  ruangan Gilang, Tiba – tiba mama Gilang memberikan secarik kertas.
“ Kamu yang namanya Prinsa ya..?”
“ Iya tante, saya Prinsa..”
“ Nak, tante menemukan ini dikamar Gilang.”
“ Apa in tante?”
“ Bacalah....!”



                                                                                    Dear Prinsa
Hai Prinsa cantik,
Mungkin ini surat terakhirku buat kamu. Aku tahu, pasti kamu sudah tahu kalo aku punya penyakit jantung.
Prinsa sebenarnya sudah lama pula kau tahu kalau kamu mngidap penyakit tumor otak. Karena setiap kamu Check up, aku juga check up. Karena penasaran ngapain kamu dirumah sakit ini, aku menanyakan kepada suster. Selama ini pula aku mencintaimu, karena waktu itu akau dengar kamu sudah jadian sama Bagas, aku urungkan niatku untuk mendekatimu.
Prinsa terima kasih karena disaat saat terakhirku, kamu mau menemaniku.


Yang mencintaimu
Gilang


“ Kak maafin Prinsa ya, Prinsa ngga’ tahu kalo selama ini kakak mencintai Prinsa.” ( Air mata prinsa tak terbendung lagi ).
            “ Tante Prinsa pulang dulu yah, sudah sore, nanti Prinsa kesini lagi.”
            “ Iya nak, terima kasih sudah mau njagain Gilang. Hati- hati ya nak.”
            “ Iya tante, permisi tante, om.”

Sesampainya dirumah
            “ Ma, pah, sekarang kak Gilang terkapar di rumah sakit.”
            “ Terus kenapa Prinsa?”
“ Mama, papa kan tahu kalo sebelum Prinsa pergi, Prinsa pengin mendonorkan jantung Prinsa buat kak Gilang.”
            “ Prinsa pengin istirahat, kini saatnya, Prinsa pengin istirahat.”    
            “ aku harap mama, papa ngga’ keberatan. Ini permohonan Prinsa yang terakhir.”
            “ Prinsa mohon kabulkan permintaan Prinsa.”
            “ Tapi Prinsa kamu kan masih muda!” ( Isak tangis mama Prinsa pun tak tertahan)
            “ Iya sayang kamu masih muda, mama ngga’ pengin kehilangan kamu sayang.”
            “ Sudahlah ma, pa suatu saat kan Prinsa juga akan meninggalkan kalian.”
            “ Jangan tangisi kepergian Prinsa, ini sudah kodrat Yang Maha Kuasa.”
            “ Baiklah kami penuhi permintaanmu nak!!”
            “ Terima kasih ma……..pa…… Prinsa sayang kalian.”
            “ Sekarang kita kerumah sakit ya, ma.. pa….”
            “ Janga sekarang nak, besok pagi aja ya..”
            “ Kamu masih capek, istirahat dulu.”
            “ Ngga’ ma , kak Gilang disana sedang berjuang melawan penyakitnya.”
            “ Baiklah nak, tapi nanti setelah isya ya.”
Sebelum pergi kerumah sakit Prinsa menulis sepucuk surat buat kak Gilang. Setelah selesai Prinsa pergi kerumah sakit, dan memberikan surat tersebut kepada mamanya Gilang. Mamanya gilang mengucapkan beribu- ribu terima kasih kepada Prinsa. Operasi pun berjalan.

            ” Ma… pa ….Prinsa pengin mama. Papa, tersenyum sebelum Prinsa pergi.”
            “ Sudahlah nak kami sudah pasrah dengan kodrat Tuhan.”
Operasi berjalan dengan baik, kebahagiaan terpancar dimata kelurga Gilang dan kesedihan terpancar di keluarga Prinsa.
Semua orang ngga’ menyangka kalau Prinsa akan meninggalkan mereka, teman- temannya mengantarkan Prinsa ke peristirahatan terakhir. Terdapat juga Bagas yang menangis meledak- ledak.
“ Prinsa……. Maafin aku, aku sudah membuatmu kecewa……..” (sambil memegangi batu nisan Prinsa )
            “ Sudahlah nak Bagas, ini bukan salahmu, ini sudah kehendak yang kuasa.”
           

            Orang tua Gilang datang kerumah sakit karena mereka mendengar kabar bahwa Gilang sudah sadar.
            “ Tante, om kok kalian disini, mana Prinsa……!”
Air mata mamanya Prinsa tak terbendung lagi.
            “ Ada apa ini, mana Prinsa om…?”
            “ Nak Gilang ini ada titipan buat kamu”
            “ Apa ini om?”

Gilang membaca surat dari Prinsa.

            Dear kak Gilang,
            Saat kakak membaca surat ini mungkin Prinsa sudah tidak ada disamping kakak, maafin Prinsa karena Prinsa ngga’ bias nemenin kakak dalam membuka mata kakak saat kakak sadar.
            Prinsa sudah membaca surat kakak, Prinsa minta maaf karena selama ini Prinsa ngga’ tahu kalau kakak mencintai Prinsa.
            Sebenarnya sejak kakak hadir di kehidupan Prinsa, Prinsa merasa kebahagiaan yang tak pernah terlupakan.
            Prinsa juga mencintai kakak, tapi meski raga ini tidak bisa memiliki,  hati dan cintaku hanya untuk kakak. Jangan tangisi kepergian Prinsa. Prinsa harap kakak akan tersenyum ketika kakak membuka mata kakak.
            Prinsa berdoa semoga kelak kita bertemu disorga. Prinsa menunggu kakak di sorga. Salam sayang buat kak Gilang dari Prinsa yang mencintai kakak.

                                                                                                Love
                                                                                                Prinsa



            “ Om, ini semua bener kan! Prinsa masih ada kan om….?”
            “ Prinsa mana om, Gilang pengin ketemu…..!”
            “ Tenang nak Gilang. Biarkanlah Prinsa istirahat dengan tenang di sorga.”
            “ Ngga’ ini semua bohong……….!”
            “ Nak Gilang mari kita ke pemakaman Prinsa”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------     

            Di pemakaman hanya terdapat isak tangis menangisi kepergian Prinsa. Meraka tidak akan pernah lagi melihat keceriaan, senyuman, tawa, canda ria seorang Prinsa. Prinsa sudah terbujur kaku dibawah gundukan tanah.
            “ Prinsa, maafin kakak. Gara- gara kakak Prinsa jadi kayak gini, seandainya Prinsa tidak ngorbanin jantuing Prinsa buat kakak semua ini ngga’ akan terjadi.”
            “ Terima kasih Prinsa, meski jantungmu tak lagi berdetak di ragamu, tapi jantung ini kan berdetak di raga kakak, kakak merasa kalau Prinsa masih hidup di hati kakak.  Selamat jalan Prinsa, kelak kakak akan menjemputmu di sorga.”

Milik Kita

Dalam diam kuterpana
Bayangmu hangatkan suasana
Disini diriku tersiksa
Menunggumu kembali bersama

Bila mungkin cinta itu indah
Sebesar dunia kumengharapnya
Jika mungkin cinta sejati ada
Yakinlah bahwa sejati milik kita

Sepenuhnya rasa milikmu
Menjaga hati saat kau jauh
Pandangi langit bila ku rindu
Percaya atas segala rasamu
Dengan cinta terucap setia
Hanya untukmu hembuskan doa. . .

DI PENGHUJUNG CINTA

KARYA:
MOHD KHAIRUL ANWAR BIN MOHD SUBRI
Gerak-gerinya aku perhatikan dari hujung tingkap. Dibukanya perlahan-lahan pintu kereta sambil membetulkan kain bajunya yang terangkat semasa di tempat duduknya. Dicapainya tangan seseorang yang di dalam kereta dan menghadiahkan sedikit kucupan mesra tanda mohon restu menuntut ilmu di sekolah. Aku lihat rambut ikal mayangnya tersikat rapi, menzahirkan penjagaan yang prihatin terhadapnya. Tubuh yang kecil menggalas beg yang sederhana besar, sarat dengan buku-buku, tanda semangar belajar ingin menjadi seorang Perdana Menteri. Langkah kecilnya mula memasuki pagar sekolah, meninggalkan kereta Proton Wira. Nampak penuh bergaya, mungkin pemandunya seorang yang cermat. Tapi, siapakah budak perempuan itu? Budak baharu ke? Ah, peduli ape aku, bukannya ada kaitan pun.

Elegi Cinta dan Kisah Prabu

Bahagianya aku setelah lelah bermain bersama sahabat karib dan gadis cantik pujaanku.
Kehangatan yang begitu mendalam masih saja tertanam di hatiku walau waktu telah lama berlalu. Aku masih ingat semua detil cerita ini dari awal hingga akhir. Karena cerita ini memang bukan cerita sembarangan yang biasanya hinggap di hari-hariku yang membosankan. Cerita ini adalah pengalaman luar biasa yang semakin mengukuhkan perasaanku kepada Sunny, gadis impianku. Jam menunjukkan pukul duabelas siang di hari yang berawan. Aku keluar dari kelas Fenomena. Gelombang dengan sangat lesu karena Pak Mertayasa berjanji akan memberikan kuis hari  Kamis besok. Aku masih belum bisa mengerjakan soal-soalnya dan belum belajar apa-apa buat bekal nanti. Untungnya, kegelisahan itu belum menjadi derita yang tak berkesudahan bagiku.

Terima kasih atas kunjungannya, semoga selamanya dapat berbagi informasi.

Tertawa dan Menangis

Tertawa dan menangis merupakan bagian dari spektrum emosi yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, yang meliputi kesedihan, kegembiraan, kekagetan, ketakutan, cinta kasih, kebencian, dan kemarahan. Ekspresi diri tidak hanya berwujud gerakan, tetapi juga berupa berbagai reaksi emosional yang bermacam-macam itu. Hanya saja ada yang pelit, ada yang boros tertawa. Tetapi jangan pelit-pelit karena tertawa dan menangis bermanfaat bagi kesehatan. 1. Tertawa bisa melatih organ-organ tubuh. Tertawa terpingkal-pingkal akan menggoyang-goyangkan otot perut, dada, bahu, serta pernapasan, sehingga membuat tubuh seakan-akan sedang joging di tempat. Tertawa-terbahak-bahak selama satu menit sama dengan 45 menit olahraga yang mengeluarkan keringat. Bahkan, tertawa selama 20 detik efeknya sama seperti tiga menit mendayung atau joging pada kerja jantung. Sekitar 80 otot digunakan ketika kita tertawa sempurna sampai terpingkal-pingkal. Getaran yang dihasilkan membuat jantung berdegub lebih kencang, tekanan darah dan tingkat oksigen dalam darah yang dihasilkan naik bersamaan dengan akselerasi pernapasan. Sesudah tertawa demikian tubuh terasa rileks dan tenang, sama seperti orang habis berolahraga. 2. Tertawa akan menggerakkan Organ tubuh bagian dalam seperti diafragma torak, jantung, paru-paru, perut, dan membantu mengusir zat-zat asing dari saluran pernapasan.dengan mengaktifkan sistem endokrin sehingga mendorong penyembuhan suatu penyakit. Di samping itu tertawa sangat ampuh untuk meringankan sakit kepala, sakit pinggang, dan depresi. 3. Tertawa akan merangsang otak untuk memproduksi hormon tertentu yang pada akhirnya akan memicu pelepasan endorfin (zat pembunuh rasa sakit) yang diproduksi oleh tubuh. 4. Tertawa bisa membantu mereka yang sudah tua renta untuk tetap awet tua, sementara yang muda tetap awet muda, serta mempererat hubungan antara anggota keluarga. 5. Menangis akan menambah jumlah detak jantung karena melatih diafragma, otot dada dan pundak. 6. Air mata mengandung 25 % dari protein dan sebagian mineral, khususnya magnesium yang sarat dengan racun yang bisa dibuang. Di luar negeri, saat ini klub tertawa sudah menjamur. Di Amerika Serikat dan Kanada, sedikitnya ada 300-an klub tertawa. Juga sudah ada di beberapa kota di Indonesia. Namun diingatkan, "Kalau seseorang tertawa pada proporsi yang benar, itu artinya sehat, tapi kalau terlalu banyak ketawa, justru sebaliknya." Makanya, sering-seringlah tertawa demi kesehatan jiwa dan raga. Mumpung tertawa belum kena pajak.