Showing posts with label Kata-kata Bijak. Show all posts
Showing posts with label Kata-kata Bijak. Show all posts
Pilih Ilmu Apa Harta???
Labels:
Coretan Kecil,
Kata-kata Bijak,
Kata-kata Motivasi
Capek... Tapi kata ini harus saya simpan jauh-jauh untuk mempersembahkan segala sesuatunya kepada Indonesia dalam hal kebaikan. Alay ah :) baik,, Temen-temen pilih Ilmu apa harta hayoo???? Keutamaan ilmu dibandingkan harta menurut Ali bin Abi thalib, ketika beliau ditanya oleh kaum khawarij jawabanya seperti ini lho..
- Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Firaun dan Qarun.
- Ilmu akan menjaga diri kita, sedangkan harta justru sebaliknya, kitalah yang harus menjaganya.
- Semakin berilmu, semakin banyak orang yang menyayangi dan meng menghormatinya, sedangkan semakin banyak harta, semakin banyak musuh dan orang yang iri kepadanya.
- Ilmu jika digunakan dan diamalkan justru akan semakin bertambah. Sedangkan harta jika digunakan justru akan semakin berkurang.
- Pemilik ilmu akan dihormati dan mendapat sebutan baik, sedangkan pemilik harta seringkali dicemooh dan mendapat julukan yang buruk.
- Ilmu itu tidak ada pencurinya, sedangkan harta banyak pencurinya.
- Pemilik ilmu akan diberi syafaat (pertolongan) di hari akhir kelak, sedangkan pemilik harta akan dihisab (diusut asal muasal dan penggunaan hartanya) oleh Allah SWT.
- Ilmu akan abadi selamanya, sedangkan harta suatu saat akan habis tak bersisa.
- Pemilik ilmu dijunjing tinggi karena kualitas manusianya, sedangkan pemilik harta dijunjung tinggi karena jumlah kekayaannya.
- Ilmu itu akan menyinari pemiliknya, sehingga hatinya menjadi lembut, tidak beku, dan hidup menjadi tenteram. Sedangkan harta akan membuat gelap mata pemiliknya, hati menjadi keras, dan hidup tidak menjadi tenang.
Namun demikian, alangkah baiknya jika kita selain berilmu, juga berharta, dengan catatan bahwa harta itu digunakan untuk kebaikan. Ngerti ya.. kebaikan. KEBAIKAN..!!!
4 Unsur Alam, 4 Anugerah Alam, 4 Kata untuk Alam "Tangisan Untuk Bumi Pertiwi".
Labels:
Kata-kata Bijak,
My Green,
Writing Contest
Sujud simpuh dalam rona kegelapan, tak tertata lagi wujud sang panorama. Diatas luka berbuah nestapa, dimana harus kucari letak pengabdian abadi jika segala melodi lantunkan nada suram di Negeriku Ibu Pertiwi.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Sedang bersusah hati
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang
Mas intanmu terkenang
. HUTAN.....!!!
. GUNUNG....!!!
. SAWAH....!!!
. LAUTAN....!!!
""Simpanan kekayaan""
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa...
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa...
Kulihat ibu pertiwi
"Kami datang berbakti"
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu
"Kami datang berbakti"
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu
Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa..
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
16 Tahun menabung untuk membangun tempat layak tinggal, namun apa??? semua berakhir cukup 1 jam saja. Kepada siapa harus menjerit... menangis.. dan mengadu!!! Bukan takdir Tuhan, semua salah dari diri kita sendiri.
Luapan air laut yang tak mungkin bisa terbendung oleh segala jenis bendungan telah meratakan Bumi Pertiwi. Lihatlah kenyataan ini dengan mata hati yang juga terbuka, namun yang ada mata kaki yang lebih banyak dibuka tak lain untuk melarikan diri. Subahanallah...
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa..
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hymne dan pujian-pujian untuk-Mu yang Maha, selalu terlantun lembut diantara kejinya perbuatan manusia, Hutan ku Gundul,,, Gunung ku meletus,,, Sawah ku meradang,,, dan Lautan ku meluap dengan leluasa. Yaa Allah,, Yaa Tuhanku.. Apakah aku hanya dapat berkarya, menulis banyak buku tanpa harus ada tunjangan positif untukmu bumi.
Bumiku menjerit ketakutan, Tanah, Air, Api, dan Udara tak dapat kubedakan lagi atas perubahan iklim yang membuatku sakit dan harus menanggung tangis. Rumah Tante ku di Kalimantan berubah dengan jelmaan seramnya api dan harus menjadi debu tak berharga. 155.611,58 hektar pohon didalamnya habis sudah menjadi santapan si jago merah.
Betapa tak berharganya sisa reruntuhan dan debu yang ada, bibirku gemetar laksana letupan dari dalam api yang dengan nikmat melahap hutan Ibu Pertiwi.
Hutanku.. Tak selamanya engkau menyimpan banyak limpahan riski, tersadar dari dunia alam bawah sadar, bahwa engkau (hutan) juga menyimpan amarah dari segala perbuatan manusia.
Dalam Pemikiran dari seorang penulis kecil tak berdaya, bahwa manusia di ibaratkan bak sebuah gunung. Indah, sangat indah dilihat dikala embun membasahi tubuhnya, begitu juga dengan manusia, sangat indah ketika tersenyum sesudah mandi, hal itu dikarenakan adanya AIR. Namun dibalik itu semua, gunung dan manusia juga menyimpan sosok kekejamanya dikala hatinya mulai terusik dan merasa hanya dimanfaatkan keindahannya saja oleh para penikmatnya. Dari faktor usia juga berpengaruh, manusia jika sudah tua pasti akan rentan akan sakit, dosapun seakin banyak dan semakin dekat atas panggilan sang Kuasa, begitu juga gunung, semakin hari semakin tua, semakin mudah juga memuntahkan penyakit didalmnya yang berwujud larva. Di Jogja, merekahnya sang gunung telah dibuktikan oleh sosok Merapi. Subahanallah, Tuhan... anugerah-Mu sungguh luar biasa, petaka yang terwujud juga tak kalah luar biasa. Udara yang sejuk telah berpacu dan melingkup dalam ruang vulcanik. Udara... Udara.... Udara... Kami manusia sangat membutuhkan nuansa alami dikesejukkanmu.
Merindukan rintihan harmoni alam tak cukup dengan lantunan doa. Hancurkan saja alamku, pecahkan saja segala keindahannya, apalah arti hidup ini jika harus menanggung dosa berlimpah atas kelalaian kita tidak menghargai alam.
Tumbuhan telah kau sihir menjadi suatu yang memburamkan kaki lagit, Binatang-binatang tanpa dosa tak berdaya, harus menanggung maut atas segala kemunafikan kita terhadap alam.
![]() |
Mendeskripsikan suatu kejadian, telaah lahir dan batin bahwa sesungguhnya segala yang bernyawa didunia ini tentu akan tiada. Sisi pemikiran logika nan ilmiah menyulutkan tanggung jawab, saling menyalahkan dan berpedoman terhadap argumen masing-masing. Keras kepala jika harus saya menilai.
Terlepas dari faktor gengsi, pedesaan tak bernilai lebih dimata manusia metropolitan, pemerintah, bahkan pengusaha besar. Cukup tersenyum lirih disaat menceritakan kronologi makanan orang kota, makanan pokok yang berupa nasi. Nasi dengan mula beras yang sebelumnya berwujud padi, dari mana asal padi jika tidak dari sawah dan dikelola oleh masyarakat pedesaan. Mereka (masyarakat pedesaan) butuh bantuan dari kita yang tinggal di daerah perkotaan, bukan berupa materi, namun berupa jasa secara tidak langsung untuk menjaga pelestarian lingkungan dari sampah-sampah di perkotaan yang berdampak longsor di daerah persawahan akibatnya aliran air yang sungai yang tidak stabil dan minimnya penyerapan air hujan ke tanah. Haruskah kita menunggu orang lain dalam bertindak? Rela tidak kekayaan alam warisan bumi pertiwi terjarah oleh sikap kita sendiri?
Pusat yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita untuk menjaga warisan Ibu Pertiwi kini tidak lagi menjadi tirik tumpu dalam pelestariannya. Tanah seakan kita tidak membutuhkannya, betapa jauhnya kesadaran mereka yang tidak menjaga lingkungan bahwa awal mula kita terwujud berasal dari tanah.
Entah mengapa setiap kali saya buka mata, hati ini terasa resah disaat menghirup udara pagi, entah dengan kendala apa dikala memejamkan mata, hati ini terasa gelisah atas perbuatan saya yang belum sempurna membenahi kebutuhan bumi pertiwi. Ingatkah waktu kejadian tsunami di Aceh? Subahanallah... Bencana yang membuat saya susah tidur ketika melihat korban dan pecahnya lingkungan saat itu. Laut sebagai harta dalam mengais kekayaan akhirnya mengungkap wujud amarahnya dihadapan kita semua. Retakan yang terjadi di pusat bencana memprotes ketidak nyamanan laut atas ulah manusia.
Luapan air laut yang tak mungkin bisa terbendung oleh segala jenis bendungan telah meratakan Bumi Pertiwi. Lihatlah kenyataan ini dengan mata hati yang juga terbuka, namun yang ada mata kaki yang lebih banyak dibuka tak lain untuk melarikan diri. Subahanallah...
Siapa yang menginginkan hal tersebut? Kehendak siapa? Jawab!!! Segala kemistikkan Bumi Pertiwi semakin hari semakin terungkap. Apa tindakan pertama kita menyikapi hal tersebut? Jawaab!!! :'(
Mengapa.. Mengapa hanya Masjid yang dapat berdiri kokoh ditengan terjangan Tsunami di Aceh? Aufariz rasa sudah banyak liputan dan sudah banyak yang mengungkap tentang hal itu, saya rasa hal tersebut adalah simbol tegoran dari Yang Maha Esa terhadap perbuatan-perbuatan dosa kita di Dunia. Astaqfirlah..
::AIR::
::API::
::TANAH::
::UDARA::
Adalah 4 Unsur alam yang sangat dibutuhkan manusia. Beragam pola penggunaan yang ada, kita sendiri yang memutuskannya, baik berdampak positif maupun akan dengan porsi negatif. Cukup... Cukup sudah menyakiti Bumi Pertiwi, berbuatlah saudara-saudariku, berbuatlah dengan ikhlas untuk Bumi Pertiwi. Bagunlah... Bagungkanlah rasa kecintaanmu terhadap Bumi Pertiwi, karena apapun yang kita bangun tentunya akan membangun diri kita sendiri. Lihatlah tepat di bola mata saya, "Tangisan Untuk Bumi Pertiwi" sungguh menginginkan Anda semua untuk memulai mencintai Bumi Pertiwi.
Yaa Allah.. Yaa Rabb... Semoga Artikel kecil ini bermanfaat bagi Bumi Pertiwi. Amiin..
Waspada!!! Bahaya Lisan.
Labels:
Cerpen Indonesia,
Kata-kata Bijak
Lisan merupakan bagian tubuh yang paling banyak digunakan dalam keseharian kita. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga lisan kita. Apakah banyak kebaikannya dengan menyampaikan yang haq ataupun malah terjerumus ke dalam dosa dan maksiat.
Pada berbagai pertemuan, seringkali kita mendapati pembicaraan berupa gunjingan (ghibah), mengadu domba (namimah) atau maksiat lainnya. Padahal, Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang hal tersebut. Alloh menggambarkan ghibah dengan suatu yang amat kotor dan menjijikkan. Alloh berfirman yang artinya, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.” (Al-Hujurat: 12)
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan makna ghibah (menggunjing) ini. Beliau bersabda, “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui” Beliau bersabda, “Engkau mengabarkan tentang saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang aku katakan itu memang terdapat pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya.” (HR. Muslim)
Jadi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, baik tentang agama, kekayaan, akhlak, atau bentuk lahiriyahnya, sedang ia tidak suka jika hal itu disebutkan, dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok. Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Alloh ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.” (As-Silsilah As-Shahihah, 1871)
Wajib bagi orang yang hadir dalam majelis yang sedang menggunjing orang lain, untuk mencegah kemunkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan hal itu, sebagaimana dalam sabdanya, “Barangsiapa membela (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Alloh akan menghindarkan api Neraka dari wajahnya.” (HR. Ahmad)
Demikian pula halnya dalam mengadu domba (namimah). Mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara keduanya adalah salah satu faktor yang menyebabkan terputusnya ikatan, serta menyulut api kebencian dan permusuhan antar manusia. Alloh mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firmanNya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah.” (Al-Qalam: 10-11). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga al-qattat (tukang adu domba).” (HR. Bukhari). Ibnu Atsir menjelaskan, “Al-Qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) , tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.” (An-Nihayah 4/11)
Oleh karena itu ada beberapa hal penting perlu kita perhatikan dalam menjaga lisan. Pertama, hendaknya pembicaraan kita selalu diarahkan ke dalam kebaikan. Alloh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (An-Nisa: 114)
Kedua, tidak membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagi diri kita maupun orang lain yang akan mendengarkan. Rosululloh shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Ketiga, tidak membicarakan semua yang kita dengar. Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar.” (HR. Muslim)
Keempat, menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda.” (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani)
Kelima, Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah rodhiallohu ‘anha berkata, “Sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu hal, dan ada orang yang mau menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya” (HR. Bukhari-Muslim) . Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga diri kita, sehingga diri kita senantiasa berada dalam kebaikan. Wallohu’alam.
AKU CAPEK AYAH
Labels:
Cerpen Cinta,
Cerpen Indonesia,
Kata-kata Bijak
“Ayah, ayah” kata sang anak…
“Ada apa?” tanya sang ayah…..
“aku capek, sangat capek …
aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek …aku mau menyontek saja!
aku capek. sangat capek …
aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! …
aku capek, sangat capek … aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung …aku ingin jajan terus! …
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati …
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku …
aku capek ayah, aku capek menahan diri …aku ingin seperti mereka…
mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! .. ”
sang anak mulai menangis…
Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata
” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu ”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak
kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang
lalu sang anak pun mulai mengeluh
” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” …
sang ayah hanya diam.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang …
“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini !”
sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“ Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah …?”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu ”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi … ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri … maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri … seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya … maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang … maka kau tau akhirnya kan?”
” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah, aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.
Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua...
Kata Bijak
Labels:
Kata-kata Bijak
Sebuah tindakan nyata jauh lebih unggul daripada ratusan teori. Kesehatan adalah hadiah yang paling berharga. Dapat merasa puas dengan apa adanya, adalah kekayaan terbesar. Hati yang berwelas asih adalah budi pekerti yang paling mulia. |
Subscribe to:
Posts (Atom)






